Kategori
Spiritual

Tempat Spiritual di Bulgaria yang Wajib Dikunjungi

Tempat Spiritual di Bulgaria yang Wajib Dikunjungi – Bulgaria merupakan salah satu negara yang mempunyai banyak tempat ibadah. Meskipun negara ini sebagian besar dihuni oleh penduduk beragama Kristen Ortodoks yang tempat ibadahnya adalah gereja dan katedral.

RilaMonasteryandBoyanaChurchTourdariSofia - Tempat Spiritual di Bulgaria yang Wajib Dikunjungi

Namun di sini juga terdapat masjid dan juga stupa Buddha serta tempat pemujaan para nabi lokal. Menurut http://gracegospelwa.org/ Negara ini menjadi salah satu tujuan paling menarik untuk menjelajahi dunia spiritual. Berikut tempat spiritual yang wajib dikunjungi saat di Bulgaria. Let’s check this out!

1. Biara Rila

Biara Rila merupakan biara terbesar di negara ini. Tempat ini juga masuk dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO. Dengan arsitektur unik ini merupakan salah satu destinasi spiritual paling populer dari Sofia.

Mempunyai bangunan yang berwarna-warni dan para peziarah yang setia berdoa menjadikan biara ini tempat tujuan yang harus dikunjungi.

2. Demir Baba Teke

Demir Baba Teke terbuka untuk semua pemeluk agama. Tempat ini dipercaya memiliki kekuatan penyembuhan. Tempat ini merupakan sebuah mausoleum untuk Demir Baba, yaitu orang suci abad keenam belas dan penyembuh dari cabang Islam Alevism.

Melansir dari http://162.241.118.60/ Alevisme dikenal toleran terhadap semua agama lain. Orang-orang sakit dari seluruh negeri datang ke sini juga untuk mengikuti ritual penyembuhan di tempat suci ini.

3. Masjid Dzhumaya

Masjid Dzhumaya terletak di Plovdiv. Islam di negara ini menjadi komunitas religius terbesar kedua sehingga masjid dibangun di banyak kota. Masjid ini merupakan salah satu masjid paling indah di negara ini.

Masjid ini memiliki usia lebih dari 600 tahun dan telah direnovasi dan dihiasi dengan pohon palem sehingga menjadikannya pemandangan yang tampak seperti bangunan yang berada di Timur Tengah.

4. Stupa Buddha

Stupa Buddha ini pertama dibangun tidak jauh dari Sofia pada tahun 2015. Dibangun di atas bukit yang indah di pinggiran desa pegunungan Plana, sekitar satu jam perjalanan dari ibu kota. Pengunjung di sini diingatkan tentang sifat sempurna dari pikiran.

Maka Pengunjung dipersilakan untuk duduk di bangku atau di rumput dekat stupa dan mengagumi tiga gunung yang mengelilinginya.

5. Rupite

Rupite merupakan sebuah desa kecil yang terletak di Bulgaria Selatan yang menarik ratusan warga Bulgaria sepanjang tahun. Yang menjadi daya tarik desa ini adalah gereja dan kuburan Baba Vanga, yang merupakan tabib Bulgaria yang paling terkenal.

Baba Vanga menghabiskan seluruh hidupnya untuk membantu orang-orang yang berbondong-bondong ke rumahnya dari seluruh Bulgaria dan luar negeri untuk mencari pemulihan.

Kategori
Religion

Wisata Religi di Banten yang Kental dengan Unsur Agama Islam

Wisata Religi di Banten yang Kental dengan Unsur Agama Islam – Pulau Jawa memang memiliki destinasi wisata religi yang sangat banyak. Salah satunya di Banten. Pasalnya, provinsi ini memang dikenal sebagai daerah yang kental dengan nilai-nilai agama Islam. Berikut beberapa rekomendasi tempat wisata religi di Banten yang bisa kamu kunjungi.

1. Masjid Agung Banten

Masjid ini merupakan cagar budaya Banten yang sudah sangat populer. Banyak wisatawan yang ingin mengetahui seluk beluk masjid bersejarah ini. Masjid Agung Banten dibangun oleh Sultan Maulana Hasanuddin pada 1552-1570.

2. Masjid Agung Tanara

Salah satu masjid tertua di Banten, Masjid Agung Tanara juga bisa menjadi alternatif wisata religi. Masjid ini peninggalan Sultan Maulana Hasanuddin yang menjadi raja pertama di Banten. Selain itu, jejak dakwah Islam di Banten berawal dari masjid yang klasik ini.

3. Batu Qur’an

Melansir dari https://116.193.191.130/ Lokasinya berada di kaki Gunung Karang. Batu Qur’an merupakan tempat ziarah yang memiliki sejarah yang unik. Penamaan Batu Qur’an berasal dari batu besar yang bertuliskan Alquran. Namun, masyrakat percaya hanya orang-orang yang memiliki ilmu tinggi yang bisa melihat tulisan Alquran di batu tersebut.

4. Makam Syekh Maulana Mansyuruddin

Jika kamu berkunjung ke Batu Qur’an, gak lengkap rasanya kalau gak berziarah ke makam Syekh Maulana Mansyuruddin. Banyak yang menyatakan bahwa Syekh Maulana sebenarnya berasal dari Jawa Timur. Namun, beliau dikenal sebagai sosok yang sangat berjasa dalam menyebarkan ajaran agama Islam di Banten.

5. Makam Syekh Abdul Jabbar

Destinasi wisata religi lainnya yang bisa kamu kunjungi di Banten adalah Makam Syekh Abdul Jabbar. Beliau merupakan salah satu ulama yang berperan dalam pembentukan Kabupaten Pandeglang bersama Sultan Syarif Hidayatullah. Maka Jika ingin berziarah membawa rombongan ke sini, pengunjung diimbau harus tetap kondusif dan tertib. Sebab, mengkutip dari http://gracegospelwa.org/  area makam hanya mampu menampung kurang lebih sekitar 20 orang.

6. Kompleks Pemakaman Kesultanan Banten

Berlokasi di sisi utara Masjid Agung Banten, terdapat kompleks pemakaman Kesultanan Banten. Banyak keluarga tokoh-tokoh besar yang dimakamkan di sana, seperti Sultan Maulana Hasanuddin dan istrinya, Sultan Ageng Tirtayasa, Sultan Abu Nasir Abdul Qohhar, hingga Sultan Zainul Abidin. Di antara makam-makam tersebut, yang sering dikunjungi masyarakat adalah Makam Sultan Maulana Hasanudin.

Kategori
Misteri Religion

Wisata Religi Jambi Bukit Lupo

Bukit Lupo – Di provinsi Jambi, tak henti-hentinya memunculkan berbagai bentuk destinasi objek wisata baru. Mulai dari wisata alam hingga wisata religi pun ada di daerah tersebut.

Dimana dari banyak wisata tersebut, kembali muncul destinasi objek wisata religi budaya dan sejarah. Tepatnya di desa Batin Pengambang. Masyarakat setempat menyebutnya Bukit Lupo yang merupakan peristirahatan terakhir nenek moyang simulo jadi yang dipercaya merupakan nenek moyang dari mereka semarga Batin Pengambang.

Baca Juga: Tempat Mistis di Surabaya, Tertarik untuk Kesana?

Dikategorikan sebagai wisata religi budaya dan sejarah, karena disitu memang mengandung unsur kebudayaan dan sejarah Marga Batin Pengambang serta dianggap berbau mistis. Gatra berkesempatan melakukan kunjungan ke lokasi tersebut pada Sabtu (20/6). Untuk menuju lokasi tersebut dari pusat kota Kabupaten Sarolangun berkisar 120 Km, perjalanan menggunakan kendaraan roda empat memakan waktu sekitar lebih kurang 4 Jam.

Selanjutnya dari pemukiman warga ke puncak Bukit Lupo berjarak lebih kurang 2 km, dengan menggunakan kendaraan roda dua dengan medan jalan mendaki.

Ketika tiba di puncak bukit tersebut, Anda akan disuguhkan pemandangan alam dengan cuaca dingin dan berbagai pepohonan hijau yang rimbun, dari ketinggian akan terlihat hamparan pemukiman warga desa setempat, sungai Batang Asai dan lahan pertanian padi sawah milik warga.

Sejarah Singkat Bukit Lupo dan Nenek Moyang Semulo Jadi

Kepala Desa Batin Pengambang, Asrin kepada Gatra menceritakan bahwa bukit tersebut dahulu kala menjadi tempat banyak orang untuk bertapa meminta sesuatu atau ketika ada hajatan tertentu mereka meminta restu ke bukit tersebut.

“Dan memang sering terkabulkan apa yang menjadi hajatan bagi yang meminta, berkat izin Allah,swt tuhan yang maha esa melalui perantara nenek moyang semulo jadi,” katanya.

Asrin menyebut, asal muasal disebutkan sebagai bukit lupo. Bahwa pada zaman dahulu kala sekitar ratusan tahun yang lalu, bukit lupo merupakan tempat peristirahatan Nenek Moyang Semulo Jadi, tempat itu dijadikannya sebagai tempat untuk memantau perkembangan dan situasi di dalam dusun dari jajahan musuh yaitu penjajah Belanda.

Dalam persitirahatan Nenek Moyang Semulo Jadi diatas tersebut. Di setiap hari Jumat warga setempat selalu mengunjunginya untuk menghantarkan makanan.

Namun pada suatu kesempatan seiring berjalannya waktu para warga tersebut lupa, sehingga pada saat itu muncullah nama Bukit Lupo.

Sementara itu, untuk nama Nenek Moyang Semulo Jadi itu sendiri karena diketahui pada waktu itu beliau ini dikenal sakti, bisa berubah menjadi berbagai bentuk untuk menaklukkan musuh-musuh yang berniat jahat kepadanya maupun daerah kekuasaannya.

Dari hal tersebut, kata Asrin menurut kepercayaan masyarakat setempat secara terun temurun bahwa hingga saat ini Nenek Moyang Semulo Jadi masih dianggap hidup dan masih ada pengaruhnya terhadap situasi daerahnya.

“Karena memang tidak pernah kami ketahui bahwa ia meninggal, dan informasi tersebut kami dapatkan turun temurun dari setiap generasinya, yang kami percaya itu bahwa kalau menghilang iya,” kata Asrin.

Cerita awal menghilangnya Nenek Moyang Semulo Jadi ini berawal dari lupanya masyarakat setempat untuk mengunjunginya.

Pada saat itu diatas bukit tersebut nenek moyang semulo jadi dalam posisi duduk ditempat seperti bakul (wadah). Ia pada saat itu mengecil dan akhirnya menghilang dan tidak pernah dianggap meninggal karena memang tidak ditemukan jasadnya diatas tersebut.

Upaya Melestarikan Objek Pariwisata

Gatra didampingi oleh penggiat wisata Kabupaten Sarolangun dan Kecamatan Batang Asai pada saat perjalanan tersebut, yakni Suryadi dan Ardiansyah. Mereka mengatakan bahwa upaya melestarikan dan eksplor berbagai objek pariwisata daerah setempat terus mereka gerakkan.

Upaya tersebut mereka lakukan agar kemudian bisa mendorong masyarakat untuk terus peduli. Bahwa pariwisata tidak sekedar persoalan rekreasi semata namun juga sebagai penopang tumbuhnya berbagai potensi lain, salah satunya soal perekonomian.

“Hal inilah yang ingin terus kami dorong, bagaimana kemudian masyarakat bisa termotivasi. Bahwa ada sumber kehidupan di pariwisata,” kata Suryadi kepada Gatra.

Suryadi berkeinginan dengan demikian geliat pariwisata didaerah tersebut terus tumbuh. Sehingga bermunculan dari inisiatif masyarakat itu sendiri, dan Pemerintah pasti akan terlibat dalam upaya pengembangannya.

Dari apa yang ada di Kecamatan Batang Asai ini, terutama Desa Batin Pengambang dengan berbagai potensinya. Pihaknya akan mendorong untuk membuat kelompok sadar wisata (Pokdarwis).

Agar pendataannya tersistematis sehingga tidak sulit ketika membutuhkan dana atau anggaran untuk pengembangannya.

“Karena untuk menarik anggarannya memang dibutuhkan Pokdarwis tersebut. Agar objek wisata mereka mudah untuk pengembangannya ketika kita bicara anggaran,” kata Suryadi.