Kategori
Misteri Spiritual

Kutukan Pengantin yang Buang Hajat Sembarangan

Kutukan Pengantin yang Buang Hajat Sembarangan

Kutukan Pengantin yang Buang Hajat Sembarangan – Ritual kejawen berupa kenduri untuk prosesi pemindahan petilasan watu penganten (batu pengantin) di Padukuhan Semampir, Desa Semugih, Kecamatan Rongkop telah selesai digelar pada Kamis siang. Bersamaan dengan itu pula, dilakukan pemecahan batu secara simbolis. Yang cukup unik, setelah sebelumnya tak ada yang berhasil memecahkan batu tersebut, terjadi hal yang berbeda pasca ritual kejawen dilakukan. Terlihat betapa mudahnya alat berat membelah beberapa sudut batu tanpa mengalami kendala. Sebelumnya, setiap alat berat yang hendak memecah batu tersebut mendadak mogok. Hal ini menyebabkan sejak beberapa waktu terakhir, proses pembangunan JJLS di kawasan tersebut mandheg.

Perwakilan dari Keraton Ngayogyakarta, GRM Raden Mas Hertriasning menjelaskan, Watu Penganten adalah salah satu tetenger (tanda) yang sudah ada sejak zaman nenek moyang. Dalam cerita yang diturunkan dari generasi ke generasi, mengungkapkan bahwa di bawah batu tersebut ada dua orang calon pengantin yang meninggal dunia akibat tertimpa longsoran batu saat berteduh.

Watu Nganten, begitu masyarakat Dukuh Ngelobener Blora menyebutnya. Seonggok batu di bawah pohon tua itu menjadi tempat keramat bagi warga sekitar. Ada cerita menarik soal batu keramat tersebut.

Supardi (74), sesepuh Dukuh Ngelobener kepada tim Liputan6.com menceritakan, keberadaan batu yang berimpitan dengan pohon tua di tengah desa itu bukan tanpa sebab.

Dahulu, katanya, ada sepasang suami istri yang baru menikah dikutuk menjadi batu lantaran buang hajat sembarangan. Si laki-laki merupakan pemuda Dukuh Ngelobener dan perempuannya dari Desa Brumbung.

“Tapi kok ya dulu orangtua saya tidak bilang namanya itu siapa, ya saya tidak tahu. Sebenarnya saya ingin tahu, tapi waktu itu saya tidak kepikiran. Zaman dulu saya masih kecil. Jadi ya tidak mengurusi hal-hal seperti itu,” ungkap Supardi.

Mbah Supardi lebih jauh menceritakan, usai menikah pasangan pengantin baru itu mulanya hendak pergi ke rumah orangtuanya menggunakan kuda. Di tengah jalan, katanya, yang kondisinya masih hutan dan belum ramai seperti sekarang, tiba-tiba si pengantin pria tak tahan buang air besar.

“Si pengantin laki-laki itu tak tahu kalau sudah buang air besar di tempat angker,” katanya.

Penunggu Marah

Supardi mengatakan, perbuatan sepasang pengantin itu membuat makhluk gaib murka lantaran telah mengotori tempatnya. Apalagi keduanya melakukan perbuatan itu tanpa permisi. Sepasang pengantin itu pun terkutuk menjadi batu.

Kuda lalu meneruskan perjalanannya sendiri. Sampai di rumah, kedua orangtuanya heran, dan bertanya kepada kuda kemana anak dan menantunya. Kuda pun mengantarkan orangtuanya itu ke suatu tempat, namun yang didapati hanyalah seonggok batu yang berimpitan dengan pohon besar.

Sejak saat itu, kata Supardi, ada pantangan tidak boleh menikahkan orang Dukuh Ngelobener dengan orang Desa Berumbung. Batu itu pun dianggap punden oleh warga sekitar dengan sebutan Watu Nganten. Dikeramatkan dan jadi lokasi orang-orang memberi sedekah bumi.