Kategori
Spiritual

Doa Buka Puasa Ramadhan

Bulan Ramadan

RamadhanBulan Ramadhan tinggal menghitung hari saja. Sebagai umat Islam ada baiknya kembali mengingat doa buka puasa maupun niat puasa Ramadhan.

Baca juga : Tata Cara Salat Tarawih di Rumah

Tidak terlalu sulit, doa buka puasa justru begitu mudah untuk dihafalkan. Berikut doa buka puasa Ramadhan lengkap beserta dengan artinya.

Doa Buka Puasa Ramadhan Pertama

Terdapat beberapa doa buka puasa yang bisa digunakan oleh seluruh umat muslim. Doa ini dibaca sebelum membatalkan puasa Ramadhan.

Allahumma laka shumtu wa bika amantu wa’ala rizqika afthartu. Birrahmatika yaa arhamar roohimin.

Artinya :

“Ya Allah, untukMu aku berpuasa, dan kepadaMu aku beriman, dan dengan rezekiMu aku berbuka. Dengan rahmatMu wahai yang Maha Pengasih dan Penyayang.”

Doa Buka Puasa Ramadhan Kedua

Kemudian, ada doa buka puasa yang juga bisa dipilih oleh umat muslim. Seperti sebelumnya, doa ini dibaca sebelum seseorang membatalkan puasa. Adapun bacaan doa buka puasa Ramadhan sebagai berikut:

Dzahabaz zhama’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru, insyaallah.

Artinya :

“Telah hilang rasa haus, dan urat-urat telah basah serta pahala telah tetap, insya Allah.”

Doa Buka Puasa yang Shahih

Sebagian besar umat muslim tentu bertanya-tanya, dari kedua doa buka tersebut manakah yang lebih shahih. Beberapa waktu lalu, keshahihan dalil dari doa memang sempat menjadi kontroversi. Perlu diingat, adanya perbedaan tidak perlu dijadikan perdebatan yang sengit.

Dikatakan oleh Ustadz Ahmad Sarwat, yang paling penting pada akhirnya yaitu ibadah puasa itu sendiri. Untuk melihat keshahihan doa buka puasa, berikut kajian yang dilansir dari NU Online.

Hadits lengkap riwayat Abu Dawud mengenai doa berbuka puasa yang belakangan disebut lebih shahih berbunyi sebagai berikut.

Artinya :

“Kami mendapat riwayat dari Abdullah bin Muhammad bin Yahya, yaitu Abu Muhammad, kami mendapat riwayat dari Ali bin Hasan, kami mendapat riwayat dari Husein bin Waqid, kami mendapat riwayat dari Marwan, yaitu Bin Salim Al-Muqaffa’, ia berkata bahwa, ‘Aku melihat Ibnu Umar menggenggam jenggotnya, lalu memangkas sisanya. Ia berkata, Rasulullah bila berbuka puasa membaca, ‘Dzahabaz zhama’u wabtallatil urûqu wa tsabatal ajru, insya Allah,” (HR Abu Dawud)

Doa Buka Puasa Yang Umum

Sementara itu, masyarakat Indonesia biasanya menggunakan doa buka puasa yang bersumber dari riwayat Imam Bukhari dan Muslim. Keterangan Syekh M. Khatib As-Syarbini yang berbunyi sebagai berikut.

Artinya :

(Mereka yang berpuasa) dianjurkan setelah berbuka membaca, ‘Allâhumma laka shumtu, wa’ala rizqika afthartu.’ Pasalnya, Rasulullah SAW mengucapkan doa ini yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.”

Silakan baca riwayat selengkapnya di Syekh M Khatib As-Syarbini, Al-Iqna pada Hamisy Bujairimi alal Khatib, [Beirut, Darul Fikr: 2006 M/1426-1427 H], juz II, halaman 385).

Doa Buka Puasa Indonesia

Melihat dari dua rujukan tersebut, bisa dikatakan doa dari riwayat Bukhari dan Muslim mampu dipandang lebih shahih. Hal ini lantaran, doa buka puasa dari riwayat Abu Dawud didasari oleh kesepakatan para ulama ahli hadits. Adapun doa buka puasa yang kerap digunakan oleh warga Indonesia didukung oleh hadits bukan dhaif.

Mengenai doa berbuka puasa riwayat Abu Dawud, ulama dari Madzhab Syafi’i menggabungkan doa riwayat Imam Bukhari dan Muslim dengan doa riwayat Abu Dawud.

Seperti disebutkan Sulaiman Bujairimi dalam Hasyiyatul Bujairimi, berikut bacaan doanya.

“(Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthartu) dianjurkan menambahkan lafal, wa bika âmantu, wa bika wa’alaika tawakkaltu. Dzahabaz zhama’u, wabtallatil ‘uruqu, wa tsabatal ajru, insyâ Allah. Ya wasi’al fadhli, ighfir li. Alhamdulillahil ladzi hadani fa shumtu, wa razaqani fa afthartu.”

Artinya :

“Tuhanku, hanya untuk-Mu aku berpuasa. Dengan rezeki-Mu aku membatalkannya. Sebab dan kepada-Mu aku berpasrah. Dahaga telah pergi. Urat-urat telah basah. Dan insya Allah pahala sudah tetap.

Wahai Zat Yang Luas Karunia, ampuni aku. Segala puji bagi Tuhan yang memberi petunjuk padaku, lalu aku berpuasa. Dan segala puji Tuhan yang memberiku rezeki, lalu aku membatalkannya.”

Untuk lebih jelasnya, silakan lihat Syekh Sulaiman Al-Bujairimi, Hasyiyatul Bujairimi alal Khatib, [Beirut, Darul Fikr: 2006 M/1426-1427 H], juz II, halaman 385).

Meneladani Kebijakan Para Ulama

Gabungan dua riwayat kemudian diperkenalkan masyarakat dan diamalkan secara turun temurun hingga kini. Supaya perdebatan tidak kian meruncing, sebaiknya semua umat muslim meneladani kebijakan para ulama terdahulu dengan menggabungkan dua riwayat.

Tidak perlu untuk mengecilkan atau menyalahkan pentingnya riwayat satu bila dibandingkan dengan riwayat lainnya. Marilah saling mengingatkan, perbedaan itu ada untuk dijembatani. Bukan untuk dibesar-besarkan.

Sumber : merdeka.com