Kategori
Spiritual

Perjalanan Spiritual ke Situ Panjalu Ciamis Disambut Harimau Hitam Putih

Perjalanan Spiritual ke Situ Panjalu Ciamis Disambut Harimau Hitam Putih

Perjalanan Spiritual ke Situ Panjalu Ciamis Disambut Harimau Hitam Putih – Dua buah harimau hitam dan putih menjadi penunggu abadi di pintu masuk area tempat ziarah Situ Lengkong, Panjalu, Kawali, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

Dahulu menurut ceritanya dua patung hewan buas itu, jelmaan dua anak raja Brawijaya, kerajaan Majapahit, yang tersesat di sana, namun mereka melanggar aturan. Akhirnya berubah wujud menjadi raja hutan penunggu hutan Panjalu Ciamis, hingga kini. Ciamis

“Silahkan rombongan dari Garut yang akan ziarah ke makam segera menaiki perahu,” ujar Eman Samsudin, 21, petugas jaga perahu gayuh di Situ Panjalu, Ciamis, memanggil rombongan asal Garut, Jawa Barat.

Area makam ziarah tempat Prabu Hariang Kencana atau Borosngora atau Sayid Ali Bin Muhammad bin Umar, seorang ulama penyebar agama Islam di wilayah itu bersemayam, memang berada di kawasan hutan lebat seluas 57 hektare.

Pengunjung yang akan tirakat, bersemedi atau sekadar refreshing menikmati suasana tengah hutan yang teduh dan asri, wajib melewati situ (danau) Lengkong seluas hampir 40 hektar tersebut.

“Airnya sangat bening dan jernih sekali,” ujar Cecep, koordianator rombongan pondok pesantren Sadang Lebak, Wanaraja, Garut ini, membuka pembicaraan.

Akhirnya setelah pelayaran singkat 20 menit mengitari situ usai, rombongan sampai juga di darmaga kecil tempat sandaran perahu, sekaligus untuk menurunkan pengunjung.

“Hati-hati dengan barang bawaannya jangan tertinggal,” ujar Heri mengingatkan pengunjung.

Sambil menunggu rombongan lainnya tiba, keceriaan pengunjung yang didominasi para santri itu pun pecah. Mereka berfoto ria, sambil sesekali diselimuti canda tawa, mereka seakan puas menikmati suguhan view alam hutan hijau nan lebat yang memanjakan mata.

Upacara Adat Nyangku

Selain menghormati leluhur, kegiatan dalam ritual maulid nabi Muhammad SAW tersebut, juga bertujuan menyebarkan agama Islam, sekaligus sarana silaturahmi antarwarga. “Intinya dari upacara Nyangku adalah membersihkan diri dari yang dilarang agama Islam,” ujar Usup.

Sejarah Situ Lengkong Panjalu

Berdasarkan cerita turun-temurun masyarakat sekitar, terbentuknya situ atau danau Panjalu bukan murni pengaruh alam semata. Namun, konon ada campur tangan kekuatan supranatural Prabu Borosngora, salah satu raja Galuh Panjalu yang telah masuk islam.

Syahdan, sang prabu yang baru belajar ilmu agama dan ilmu kesaktian sebagai bekal dalam menyebarkan agama Islam, diminta Prabu Lembu Sempulur II yang tak lain ayahnya, untuk membawakan air zam-zam dan pedang bersamaan dalam sebuah gayung tanpa tumpah sedikit pun.

Akhirnya, permintaan tersebut dilaksanakan dengan sempurna Borosngora. Saat ditumpahkan ke dalam danau Panjalu, ada beberapa tetes air yang berserakan hingga akhirnya berubah menjadi nusa atau pulau kecil di tengah danau.