Kategori
Society

Masyarakat Suku Baduy Tolak Bansos

Masyarakat Suku Baduy Tolak Bansos Tunai COVID-19 dari Pemerintah

Masyarakat Suku Baduy Tolak Bansos – Baduy merupakan masyarakat adat yang menolak modernisasi. Masyarakat baduy yang menolak dana desa ada di Desa Kanekes, Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten.

Dana desa itu dikucurkan pemerintah untuk Daftar 918Kiss pembangunan infrastuktur guna menunjang pertumbuhan ekonomi di daerah itu. Masyarakat suku adat Baduy di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten,  menolak menerima dana Bantuan Sosial Tunai (BST) dan Bantuan Langsung Tunai (BLT), yang dibagikan oleh pemerintah kepada warga terdampak pandemik COVID-19.

Banyak hal yang menjadi alasan masyarakat suku adat Baduy menolak bansos tersebut. Salah satunya karena khawatir menimbulkan kecemburuan sosial.

“Kami menolak penyaluran BST maupun BLT itu,” kata Jaro Saija, Tetua Adat Baduy yang juga Kepala Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar, seperti dikutip dari Antara, Kamis.

1. Bantuan itu bisa timbulkan kecemburuan sosial

Apalagi, lanjutnya, dana BLT itu disalurkan melalui Dana Desa (DD). Sedangkan di Desa Baduy tidak ada dana tersebut. Penolakan itu, kata dia, juga disepakati lembaga adat karena bisa menimbulkan kecemburuan sosial.

“Jumlah warga yang tidak menerima lebih banyak dibandingkan warga yang menerima dana sosial, sehingga tidak menyanggupi bentuk pertanggungjawabannya,” ujar Jaro Saija.

Menurut dia, selama ini masyarakat Baduy yang tinggal di Gunung Kendeng sangat kuat terhadap aturan adat karena titipan leluhur.

Masyarakat Baduy lebih mencintai kedamaian, kerukunan, keharmonisan, dan saling tolong-menolong. Bahkan, di masyarakat Baduy yang menempati tanah hak ulayat adat itu, hingga kini belum pernah terjadi kriminalitas, keributan, kerusuhan, dan Baduy terbebas dari penyalahgunaan narkoba.

Selain itu, masyarakat Baduy juga belum mengalami kelaparan pangan, karena bisa menyimpan gabah hasil panen padi huma. “Kami lebih baik dana sosial akibat dampak COVID-19 itu diberikan ke orang lain saja,” katanya.

2. Jumlah penerima bansos hanya 20 keluarga, sementara jumlah warga Baduy 14.600 jiwa

Masyarakat Baduy menolak karena jumlah penerima bansos itu hanya 20 Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Sedangkan saat ini warga Baduy berjumlah 14.600 jiwa dan 4.320 kepala keluarga (KK), yang tersebar di 68 Kampung Baduy Luar dan Baduy Dalam.

“Karena itu, masyarakat Baduy lebih baik menolak dana sosial yang digulirkan pemerintah pusat dan pemerintah daerah,” kata Jaro Saija.

3. Dinsos Lebak benarkan penolakan BLT dan BST oleh warga Baduy

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Lebak Eka Darma Putra membenarkan, bahwa warga Baduy menolak dana sosial tersebut karena masih kuat memegang adat leluhur. Penolakan bantuan sosial itu juga dilengkapi surat pernyataan dari Kepala Desa Kanekes juga tokoh adat, Badan Perwakilan Desa (BPD), RT, dan RW.

“Kami menghargai keputusan adat mereka yang menolak menerima dana BLT dan BST,” kata Eka Darma.